Rabu, 26 September 2018

berusaha

Hari ini hari kamis 27 September 2018 aku sedang memikirkan hal yang tak masuk akal bagi setiap orang bagai mana caranya untuk mewujudkan semua keinginan..? Mungkin itu bukan hal yang mudah  untuk melakukannya, meski slogannya " BERUSAHA KERAS DAN TERUS OPTIMIS" nah dari itu bagaimana cara berusaha keras. beryusaha keras yaitu bagaikan kita punya keinginan atau sesuatu yang mau di capai dengan cara menekuni apa hal yang terkait di keinginan tersebut dan mengapa kitaharus tetap optimis yaitu karna dengan optimis kita bisa wujudkan usaha keras kita . nah dari itu mulailah ada celah buat kita untuk mewujudkan semuanya

Hati seorang anak

Dahulu kala ketika ia masih duduk dibangku sekolah dasar, Ahmad sering sekali membantu kedua orang tuanya, bahkan ia sepulang sekolah langsung pergi keladang untuk membantu ibunya. Ahmad sangat penurut dan mau melakukan semua kebajikan. Ia tak lupa mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam. Ahmad merupakan figur anak yang sabar, ia bertekad suatu waktu ia bisa memberangkatkan kedua orang tuanya pergi haji ke tanah suci.
Sejak duduk di bangku SD, Ahmad merupakan anak laki-laki yang pendiam dan Ia juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang yang handal di bidang IT akhirnya iapun berusaha sekuat tenang untuk bisa membahagiakan orang tuanya.
Sampai pada suatu ketika, ia berhasil meraih sebuah posisi yang sangat bagus disebuah perusahaan, ia pun tidak mau menjadi orang yang sombong, sebab ia pun tahu keberhasilannya yang sudah ia peroleh adalah sebagian besar karena doa dari kedua orang tuanya, dan pada akhirnya iapun bisa memberangkatkan haji kedua orang tuanya dan merasakan sangat bersyukur karena ia bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya.
Pesan Cerita hati seorang anak adalah janganlah kau sia-siakan orang tua, jika saat ini mereka masih hidup, pelihara, jaga dan rawatlah mereka, sebab merekalah yang merawat kita semenjak kita kecil.

Senin, 24 September 2018

perjuangan yang tak akan kulupakan
penantian yang selalu aku nantikan
kasihku dimana dirimu
kuberdo'a di setiap harinya
semoga 
Dahulu kala ada seorang anak laki laki dia ituh merupakan seorang pekerja keras namun dia adalah seorang pendiam, pada waktu kecil dia sudah mandiri membantu orangtuanya dalam melakukan pekerjaan yang sering dilakukan oleh orangtuanya. pada saat usia 5 tahunan masa kecilnya dia tidak begitu bahagia sebab dia kesepian, karna gak ada yang bisa dia lakukan selain membantu orangtuanya, karena dia merupakan anak bungsu satu satunya dari tiga bersaudara dan kakak-kakak nya yang satu merantau bekerja ke jakarta yang kedua kakak nya bekerja sebagai peternak itik. jadi dia gak ada teman buat bercanda seperti teman sebayanya dekat sama kakak-kakak nya tiap hari kemana mana selalu di temani kakaknya sedangkan dia hanya bisa melamun dan berpikir kapan saya bisa berkumpul sama kakak nya. dan dia terus berdo'a supaya bisa kembali lagi berkumpul bersama sama keluarga.
setelah dia lulus taman kanak kanak dia melanjutkan sekolahnya di sekolah dasar dimana dulu kakaknya menimba ilmu di sana pada saat dia masuk sekolah dasar dia mulai mengerti kenapa kakak-kakak nya bekerja sangat jauh. dan setelah lulus dari sekolah dasar dia melanjutkan sekolahnya  ke MTs dimana tempat kakak nya dulu sekolah disana dan guru guru disana tiba tiba saja mereka mengenal saya secara drastis karena dulu kakak saya katanya dia merupakan siswa yang berprestasi di sekolah tersebut. dan  dia pun tidak kalah sangat pandai dalam hal perhitungan, sejarah dan yang pokoknya. dan sejak disana dia berniat bercita-cita ingin menjadi pengusaha yang sukses. setelah dia lulus sekolah MTs dia melanjutkan sekolahnya di jenjang sekolah menengah kejurusan

Jumat, 10 Agustus 2018

supranatural yang pernah datang

Percaya gak percaya, hal supranatural ada di luar sana. Beberapa orang memang diberi kemampuan khusus entah sejak lahir, karena kejadian tertentu atau dikondisikan sedemikian rupa. Banyak orang berpikir bahwa kemampuan tersebut hebat, tapi para pemiliknya berharap gak bisa melakukannya.
Selain karena mereka harus terbiasa dengan hal yang gak dirasakan orang lain, terkadang ada tanggung jawab lebih yang dibebankan pada mereka sesuai kemampuannya.
seperti halnya diri saya sendiri yang pernah mengalami hal yang serupa seperti :

Melihat sesuatu yang gaib

Melihat sesuatu yang gaib itu dirasakan awal mulanya pada saat duduk di bangku SD kelas 1, saat itu sedang bermain di depan rumah pada saat menjelang magrib ada seseorang yang enggak aku kenal dia berpakaian layaknya seorang ratu istana dia menghampiri saya saat sedang duduk di depan rumah sendirian dan dia bertanya "kamu gak main sama teman-teman kamu" pada saat itu aku gak menjawab saking gak kenalnya mungkin saya gak menjawab pertanyaan yang dia tanyakan, terus saya dibawa kesuatu tempat yang dimana disana banyak sekali pemandangan yang serasa tidak ingin beranjak kemana mana lagi, soalnya pemandangannya itu sangat-sangat menakjubkan seperti halnya melihat pegunungan yang tak asing bagi saya kalau sekarang dikenal sebagai gunung syawal di daerah kabupaten ciamis. dan setelah itu saya dibawa lagi kesuatu tempat yang awalmulanya saya hanya mendengar dari ayah saya yaitu gunung djati cirebon, saya di bawa kesana sangat-sangat dengan cepatnya langsung sampai disitu di gerbang masuk makom sunan gunung djati, mungkin singkat saja pada watu itu di bawa ketempat diamana yang belum saya kenal dan sekarang ada beberapa yang pernah aku singgahi dengan wujudnyata dan pasti yaitu gunung jati desa utama, gunung susuru, karangkamulyan, gunug sari, pokonya di daerah tatar galuh yang sekarang dikenal kabupaten ciamis.


Membaca pikiran seseorang

Membaca pikiran orang lain itu sejak saat itu saya berada di rumah yang saat itu awal mulanya saya melihat ibu saya sedang berada di dapur sendirian beliau sedang duduk santai sambil menghadap keluar rumah pada ssat itu juga terlintas ada bayangan seperti ilustrasi/imajinasi pikiran dan disana saya melihat bayangan seorang bayi yang sedang dia gendong dan itu menyerupai  wajah saya sendiri di dengan penuh kasih sayang melantunkan bacaan solawat pada saat itu dan saya pun seraya meneteskan air mata melihat itu semua dan terlintas juga bayangan seperti beliau sedang memikirkan sesuatu yang membuat hati ini menjadi ingin menangis sejadi jadinya. dan langsung ssat itu saya memeluk ibu saya erat erat sembari menangis dan entah apa saya lagsung mengucapkan ibu sehat terus saya akan membahagiakan ibu dan ayah ketika saya udah besar nanti aku akan wujudkan impian ibu dan ayah. dan setelah kejadian itu saya sering melihat bayangan yang ketika saat saya melihat seseorang sampai sekarang.


Melihat aura orang lain

Melihat aura orang lain itu ketika saya bermain sama teman-teman sebaya waktu SMP itu karna waktu itu saya suka sama warna biru dan kebanyakan saya memilih teman yang aura nya berwarna biru tapi ha itu sangat sulit menemukannya kebanyakan merah sama hitam. dan itu yang paling saya kurang suka karena susah bergaul dengan orang lain.

Muksa, atau lepas dari tubuh ketika tidur

Muksa istilah dari melepaskan roh kalau dalam bahasa jawanya , dalam hal ini sering terjadi ketika tidur entah sebab apa tiba tiba saja bayangan bisa melihat diri sendiri sedang tertidur. hal seperti ini jika terjadi itu semisalnya sedang berada di alam lain. dan juga bisa pergi kemana saja yang di inginkan bisa keliling dunia atau pergi kesuatu tempat yang di inginkan, tapi hal ini sepertinyata karena sesudahnya kita akan ngosngosan seperti udah lari maraton.

Merasakan energi atau pun rasa dari sekelilingnya

hal ini sering terjadi bila saat berpergian ke suatu tempat atau mengunjungi tempat yang kita tuju. hal ini saya rasakan pada waktu masih kelas SD terjadi pada saat berkunjung ke kerabat pada waktu itu saya merasa ada yang memperhatikan dari belakang, namun aku cuek saja lama kelamaan saya penasaran dan saya tengok kebelakang ternyata ada seorang laki laki yang terus mengikuti saya sedari datang dari tadi eh ternyata teman waktu kecil ku sedari tk. dan sesudah seperti itu saat kemana mana pasti merasakan hawa yang ber ubah ubah.

Punya alter-ego yang bisa "dipanggil" sampai menjadi doppelganger

Berbeda dengan kepribadian ganda. Kepribadian ganda adalah kelainan psikologis, sementara dalam hal ini adalah cenderung ke arah supranatural di mana kepribadian yang lain itu akan muncul sesuai kondisi yang dibutuhkan dan pada level tertentu bisa dikontrol kehadirannya. Gak cuma itu, beberapa yang memiliki kemampuan ini bahkan bisa berada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Masalahnya jika sudah dalam kondisi seperti itu, terkadang sosok salah satu lainnya gak terkontrol dan bisa melakukan apa saja, sementara namamu lah yang akan tercoreng jika ia melakukan sesuatu yang buruk. itu saya rasakan dan mengalami hal yang tidak biasa.

Mengubah energi lebih baik untuk kesembuhan orang
hal ini jarang saya gunakan,hanya saat saat tertentu saja intinya bukan untuk pamer atau apalah.

Dilindungi oleh suatu bentuk yang akan mencelakai orang yang menyakiti

hal ini baru saya rasakan ketika sedang terjadi keributan di dalam kelas yaitu saya sendiri yang menjadi korbannya, pada waktu itu saya sedang memotong kuku lalu datang teman dari kelas lain menghampiri lalu duduk di sebelah saya lalu dia berniat ingin meminjam gunting kuku itu tapi memintanya dengan nada yang gak aku suka seperti " heh An**ng pinjam gunting kuku" ya otomatis saya gak merespon, lalu baju saya di tarik dia menantang bertarung dengan saya , dan saya berpikir hal sepele kok bikin emosi meningkat lalu teman yang tadi kan sedang memegang sebelah kayu itu asalnya dari kaki meja yang udah rusak. lalu kayu itu di pukulkan ke belakang kepala saya dan sayatidak merasakan kesakitan atau apa, saya merasa gak kena pukulan yang keras dan pada waktu itu teman sekelas lalu menghampiri kami berdua dan memisahkan kami, saya hanya terheran" saya pada kenapa coba dan aku tersadar sesudah beberapa hari setelah kejadian itu bahwa ada yang melindungi aku sejak itu sampai sekarang.

Memindahkan benda di luar jangkauan sentuhan

memindahkan benda di luar jangkauan sentuhan belum saya alami kalau kalau mungkin sekarang saya bisa terbang bebas kesana kemari..

Diberi penglihatan akan masa depan

hal ini sering saya gunakan bila ada yang membutuhkan saja tidak untuk di pamerkana hanya untuk diri saya sendiri yang tahu.

Minggu, 01 Juli 2018

Kisah Dibalik Kota Perantauan

Kisah Dibalik Kota Perantauan

ketika acara pelulusan tiba

Ketika hari yang di tunggu-tunggu itu datang pada tanggal 3 april 2018 itu, saya sangat gembira sekali karna pada taggal itu rasa senang, takut, was-was campur aduk semua karna pada hari itu penentuan LULUS / TIDAK LULUS nya aku apalagi pengumumannya itu di barengin sama acara perpisahan dan di dampingi oleh orang tua.
dan pada detik-detik pembagian surat kelulusan oleh wali kelas rasa dag dig dug  itu makin kencang ketika semuanya sudah kebagian surat kelulusan ada salah satu teman dari angkatan saya yang enggak nerima surat kelulusan, sesudah semuanya kebagian barulah menuju ke orangtua masing-masing, aku langsung menghampiri orang tuaku sembari membawa surat kelulusan sembari berjalan saya berdoa kepada allah semoga aku lulus, pada saat orangtua ku membuka isi surat kelulusan itu aku agak menjauh karna segala rasa itu menghampiri pada itungan mundur dari 3...2...1... suratpun dibuka oleh orangtuaku dan dibacanya ternyata aku LULUS 100% cuy tanpa bersyarat dan aku langsung peluk orangtuaku sembari menangis karna rasa penyesalan kegembiraan yang ada dibenakku seakan menghampiri prasaan ku karna aku orangnya nakal bandel dan juga suka keluar malem. aku menangis sejadi jadinya di pelukan orangtuaku lalu aku syujud syukur atas apa yang aku peroleh selama 3 tahun di sekolahan sekarang aku udah lulus dan menjadi alumni.
setelah acara itu selesai saya sam orangtuaku langsung pulang kerumah karna saya sangat kasihan sama orangtuaku belum istirahat jadi aku pulung kerumah. sesampainya di rumah aku menangis sejadi jadi dan meminta maaf kepada orangtuaku atas apa yang selama ini aku suka macem -macem kepadanya aku meminta maaf dan aku langsung mencuci kedua orangtuaku.

Selasa, 15 Mei 2018

Cerita Aku, Kau, Dan Dia ( cerpen )

Cerita Aku, Kau, Dan Dia

Oleh : Muhamad Sajidin

"Rendy! Cepetan dong di kamar mandinya! Lama banget sih!" teriakku sambil menggedar-gedor pintu kamar mandi dengan kepalan tangan yang kuat.
"Hallo! Denger gak sih lo! Gue udah gak tahan nih!" teriakku lagi. Tapi tak ada jawaban di dalam kamar mandi sana. Yang ada hanyalah keheningan.

Aku nggak habis pikir. Apa sih maunya Rendy? Dia pikir kamar mandi cuma punya dia doang apa? Aku sudah nggak tahan lagi untuk buang hajat, ibarat peribahasa, bagaikan telur di ujung tanduk. Akhirnya untuk meredam gelora yang makin membara di dalam perutku, aku berjalan mondar-mandir di Flur depan kamar mandi. Aku sampai mengeluarkan air mata karena kesal dengan Rendy yang cuek banget, dan karena rasa sakit ingin buang hajat sudah nggak bisa kutahan.

Semenit, dua menit, lima menit, sampai sepuluh menit, si 
Rendy tetap di dalam. Akhirnya aku segera mengambil jaket, memakai sepatu, lalu lari ke asrama yang berjarak 30 meter dari asrama kami. Sampai di sana – yang nota bene adalah asrama anak-anak cewek – aku malah ditertawakan ketika mereka tahu kalau seorang laki-laki yang cantik ini datang ke sana karena kebelet ke toilet. Duh, makin kesal aku dengan Rendy!

Seperti itulah keadaan asrama kami sekarang ini. Bagaikan neraka! Padahal dulu, setahun yang lalu saat kami bersama-sama masuk ke asrama ini, keadaannya damai, adil, dan sejahtera!

***

Asrama kecil kami dihuni oleh tiga orang, yaitu aku, Rendy, dan Huda. Kami sama-sama baru sampai di Berlin setahun yang lalu. Pertemuan pertama kami adalah ketika acara pengajian bulanan di KBRI. Ketika itu kami masih belum punya Asrama dan masih menumpang dengan orang lain. Tapi alhamdulillah, ada tawaran sebuah Asrama berperabot dari salah seorang mahasiswa yang telah selesai studinya. Jadilah kami bertiga memiliki sebuah tempat tinggal yang kami harap akan menjadi saksi berseminya ikatan cinta dan ukhuwwah di antara kami.

Dan kami memang kompak! Orang-orang se-Berlin saja menyebut kami A karena kemana-mana selalu bersama. Ke supermarket bareng, ke bank sama-sama, sampai berangkat Studkol pun selalu bertiga. Ibarat vektor, kami itu linearabhangig. Kami pun mulai mengenal satu sama lain lebih dalam.
Rendy itu kalau tertawa suka ngakak, suka melucu, Bahasa Jermannya jago, hobinya bermain game perang-perangan. Tapi biar begitu, masalah pelajaran dia top banget. Kalau aku ada PR dari Studkol, dia pasti mau membantu aku menyelesaikannya. Pokoknya kalau masalah pelajaran, dia nomor satu lah.

Beda dengan Aditya, si cowok lugu. Suaranya halus dan pelan, seperti orangnya yang sangat perasa, tapi dia mudah sekali tertawa. Kalau tertawa suaranya nyaris tak terdengar seperti iklan mobil, ketika tertawa dia selalu menutup mulutnya, katanya sih refleks. Keahliannya adalah melukis. Asrama kami selalu ada gambar lukisan-lukisan yangsangat bagus. Intinya kalau masalah melukis dia number ono.

Kalau aku? Kata mereka, aku ini perfeksionis. Nggak bisa melihat ada kotor sedikit atau ada barang yang tidak pada tempatnya. Yang jelas, Wohnung kami selalu terlihat rapih, bersih, wangi dan menawan karena aku. Kesimpulannya kalau masalah beres-beres, crème de la crème deh!

Tapi itu dulu, sekarang di mataku, dua anak itu sudah kelihatan belangnya.
Pertama Anin, aku bingung, sebenernya dia itu lugu atau blo’on sih? Sangat pelupa, sembarangan, dan berantakan. Dia pernah lupa mematikan kompor waktu selesai masak sampai api berkibar-kibar di udara. Lupa nyuci piring, lupa buang sampah, pokoknya nggak ketahuan antara beneran lupa atau sengaja dilupa-lupain. Kalau bercanda pun – saking lugunya – terkadang suka menyinggung hati orang lain. Aku teringat waktu itu, 
Fitri sedang memasak nasi goreng, lalu Anin datang untuk mencicipi. Tebak apa komentarnya?

„Waahh, nasi gorengnya tumpah garam ya? asin banget,“ atau juga,
„Ihh kok bentuk makanannya kayak gini? Kayak makanan ikan, gak nafsu ah makannya“

Kalau sudah seperti itu, pasti 
Fitri langsung tersinggung dan mengunci diri di dalam kamar. Memang, masalah memasak Anin yang paling jago, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya berkomentar dong?!

Beda Anin beda pula 
Fitri. Belakangan ini cueknya nggak ketulungan. Seolah-olah dunia ini milik dia sendiri dan yang lain hanya ngontrak. Ya seperti kejadian tadi, Rendy memakai kamar mandi seenaknya sementara yang lain sudah menunggu lama di luar. Bukan hanya itu, kadar cueknya telah melampaui batas. Sekarang dia sudah tidak mau lagi ngajarin kita-kita pelajaran. Kerjaannya tiap hari main games di depan komputer atau belajar atau membaca buku sendirian. Peraturan rumah yang sudah disepakati bersama pun sudah dia tinggalkan. Kalau seperti ini, aku berasa seperti pembantu rumah tangga di Wohnung ini! Semua pekerjaan bersih-bersih aku yang mengerjakan. Ya habis bagaimana? Si Aditya pelupa, si Rendy cuek, sedangkan aku paling gak tahan melihat sesuatu yang kotor dan berantakan! 


***

Rendy! Gue mau ngomong sama elo!“ bentakku ketika sudah sampai kembali di Wohnung. Seperti biasa Rendy hanya memandangku sebentar lalu mengeloyor pergi ke kamarnya.
„Heh! Dengar gue gak sih? Gue mau ngomong sama elo!“ kataku nyolot.
„Ya kalau mau ngomong, tinggal ngomong aja! Gitu aja kok repot,“ balasnya nggak kalah nyolot.
„Heh! Dengerin ya, yang punya kamar mandi di Wohnung ini bukan cuma lo doang tau!“
„Na, and?“ jawabnya gampang, membuat emosiku semakin membara.
„Ya kalau gue mau masuk kamar mandi, lo harus cepet-cepet juga dong! Minimal bilang tunggu sebentar kek, apa kek,“
„Di dalam kamar mandi nggak boleh bersuara. Itu yang gue tahu,“ jawabnya yang membuat aku kehilangan kata-kata lagi.
Duuuh! Egois banget sih dia!

Saat suasana makin memanas, datang si lugu Aditya ke kamar 
Rendy.
„Ada apa sih? Kok ribut-ribut?“ sahutnya dengan wajah lugunya yang ‚menawan’.
„Ah udah deh! Lo gak usah ikut campur! Kalian berdua tuh sama aja! Muak gue di Wohnung ini!“ teriakku lalu pergi meninggalkan mereka dan masuk ke kamar dengan membanting pintu keras-keras.

***

Seminggu sudah semejak kejadian itu. Suasana di antara kami semakin menegang. Di Studkol kami pun berjalan sendiri-sendiri, tidak lagi seperti AB-Three yang dulu orang-orang bilang. Aku pun menjadi malas pulang ke Wohnung. Aku lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan atau di mana saja asal bukan di Wohnung. Perlahan kesehatanku menurun, bukan karena Anin yang sekarang tidak pernah lagi memasak untuk kami, tapi karena aku memang suka telat makan di musim dingin yang menusuk-nusuk ini.

„Assalamu’alaikum..“ sahutku pelan saat masuk ke Wohnung pada pukul sebelas malam. Kulihat lampu kamar 
Fitri dan Anin masih menyala, tampaknya mereka belum tidur. Kutengok keadaan dapur, ternyata masih sama. Piring yang menumpuk, sampah yang menggunung, dan yang membuatku sedih, kompor yang kosong. Aku sedang lapar sekali malam itu dan berharap Aditya memasak sesuatu. Ternyata tidak.

Langkahku memberat untuk sampai ke kamarku. Tiba-tiba dunia seakan berputar. Kepala seperti mau meledak, lalu aku lemas dan tersungkur, tepat di depan kamar 
Rendy sebelum aku masuk ke kamarku.

„Huuda! Huuda! Elo kenapa, da? Huda!“ hanya itu yang bisa kudengar, dan mataku hanya mampu menangkap wajah panik Dara dan Aditya.

***

Saat tersadar yang aku lihat pertama kali adalah sebuah tivi kecil yang menggantung di atas dinding. Dari aroma ruangan, aku langsung tahu kalau sekarang aku berada di sebuah rumah sakit. Selang-selang infus membelit-belit di lenganku. Kutoleh wajahku ke sisi ruangan, nampak Anin dan 
Fitri sedang duduk menungguku.

„Nurry! Gimana? Agak mendingan sakitnya?“ kata 
Fitri yang baru kali ini aku dengar lagi setelah sekian lama. Penuh perhatian. Aku tersenyum dan mengangguk.
„Lo sekarang lagi di Charité. Hampir seharian lo nggak sadarkan diri. Udah, lo tenang aja. Kata dokter lo kecapekan. Ini gue bawain catatan Studkol hari ini,“ lanjutnya. Aku menatapnya kuat-kuat.

„Nurry.. maafin Anin ya, kata dokter kemarin Nurry pingsan karena kelaparan. Maaf kemarin Anin lagi nggak mood buat masak. Ini Anin masakin ayam pop dan salad kesukaan Nurry. Soalnya menu makanan di rumah sakit ini ada babi nya. Terus dagingnya juga gak jelas. Rasanya juga pasti hambar. Makanya Anin bawain makanan. Dokter bilang boleh kok,“ katanya dengan suara anak kecilnya yang khas. Alhamdulillah, Allah memberikan aku cobaan ini sehingga hubunganku dengan 
Fitri dan Anin menemukan titik perbaikan lagi.

„Nin, Ra, gue boleh ngomong?“ kataku dengan suara yang masih serak.
„Boleh.. boleh“ sahut mereka bersamaan.
„Gue mau minta maaf karena belakangan ini bawaannya suudzon terus ke kalian. Kalian juga sih, yang satu cuek, yang satu pelupa,“ kataku.
„Sama-sama Nur,“ jawab 
Fitri. „Kita juga sebel sama lo, soalnya lo itu pemarah. Emosian. Kerjanya cuma ngomel-ngomel melulu. Jadinya kita juga sebel. Walau terkadang gue juga suka sebel ke Anin karena suka berkomentar tak berdosa,“ lanjutnya.

Kami bertiga tertawa. Ada pengakuan dosa. Saling berintropeksi, saling mengerti dan memahami, bahwa masing-masing orang punya karakter yang berbeda. Memahami karakter orang, terbuka, saling percaya, dan saling paham adalah modal dasar untuk membentuk sebuah hubungan terlebih untuk tinggal bersama. Perbedaan karakter bukan menjadi alasan untuk saling bertabrakan, tapi menjadi pewarna yang indah bagai pelangi. Semakin berbeda warnanya semakin indah dipandang.

Saatku kembali ke Wohnung setelah tiga hari menginap di rumah sakit, kulihat ada sesuatu yang berbeda. Wohnung kami makin rapih, bersih, dan wangi. Di dapur pun sudah menanti masakan-masakan si Anin. Kami memulai lagi Wohnung kami. Peraturan baru: Masak harus bergantian, membereskan rumah harus bergantian, selalu shalat berjamaah, selalu belajar bersama, dan bersama-bersama yang lainnya. Kami pun menjadi AB-Three lagi, seperti sebuah tembangnya yang jadul banget itu: „We are one!