Sabtu, 17 November 2018

Hayalan

Suat hari mulai senja dan rasa gelisah di tinggal sendiri di Ibu Kota. Dirumah yang sepi tiada penghuni aku berkata dalam hati "Kapan aku bisa menciptakan kehidupan yang indah dan hidup bebas dalam rasa keterpurukan" tanpa sengaja aku berhalusinasi lagi dala diri "Betapa indahnya hidup yang aku jalani saat ini penuh keistimewaan, kebahagiaan , kesenangan dalam diriku, Andaikan aku bisa dan memulai hidup ku dengan sangat mudah , bisakah aku hidup bahagia, tentu saja bisa bila aku berusaha sekuat tenaga. Tapi harus dari mana mengawalinya. Apa harus bekerja untuk orang lain.!! Apa harus buka usaha sendiri. Hemm entahlah mungkin aky bisa mencapai semuanya dengan kerja keras ku, Setiap susudah gajian turun aku bagi dua setengah nya aku tabung dan setengahnya buat kebutuhan sehari hari. Dengan begitu aku sudah punya bank sendiri."

Waktu berjalan malam dan akupun tertidur. Pada waktu adzan subuh tiba aku terbangun lalu pergi ambil air wudhu dan brangkat ke mesjid untuk melaksanakan shalat. Sesudah itu saya kembali tidur lagi dan bangun jam sembilan siang. Lalu aku masak mie instan untuk sarapan.

Jam sepuluh pas akupun pergi ke toko . Sesampainya di toko aku pun langsung termenung rasa sedih,kesal,kecewa semua campur aduk. Aku hanya bisa termenung dalam kesedihan. 

Minggu, 21 Oktober 2018

Kesedihanku

”Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus”

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!.

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

"............"

Diwaktu aku teringat akan kehadiranmu,
disitulah aku belum tau apa apa,
aku di peluk, di cium dan di belai dengan kasih sayangmu,
aku teringat..!! sewaktu aku nakal kamu marah terhadapku,
dan aku hanya menundukkan kepala ku saja.
tapi kemarahanmu itu bukan untuk menyakitiki ku,
marahmu itu bentuk kasih sayang kamu terhadapku,
dan aku pun menangis saat kamu memarahiku,

Karena..!!

Aku takut akan  kehilanganmu,
Takut akan hilang kasih sayangmu,
Dan takut hilang senyumanmu,

ya alloh..!!  sehatkanlah dia untukku,
panjangkan umur dia.

Jumat, 12 Oktober 2018

Sebuah kisah dari 24 november 2017

19:19
Jumat, 12 OKTOBER 2018

tanggal di atas menjadi saksi dimana harus menerima semuanya dengan ihklas. dari berstatus pacaran menjadi JOMBLO . namun akhirnya satu sama lain menerima dengan ihklas semuanya tidak ada dendam dan tidak memutuskan tali silaturahmi antara kita.
setelah itu aku sama dia menjadi adek dan kaka yang bisa mengasih satu sama lain dan tidak ada halangan apa apa.
untuk itu saya sangat berterima kasih sekali kepada sahabat saya yang memberikan sarannya. untuk bagaimana satu sama lain tidak sakit hati. dengan ihklas tanpa memutuskan tali silaturahmi.

Rabu, 03 Oktober 2018

Impian Impian

apa yang selalu aku lakukan disitu aku berusaha untuk menjadi yang terbaikbagi semuanya kenapa karna saya gak suka bermain di depan layar enakan di belakang layar kenapa bisa begitu sebabnya setiap orang punya akal dan pikiran masing masing. oleh sebab itu kenapa enakan di belakang layar, karna kalau di belakang layar itu senang nya minta ampun,,,

Duduk di kursi putar

DUDUK DI KURSI PUTAR

Duduk di kursi putar itu memang kerjaan sehari hari saat bekerja rasanya sagat enak, nyaman,santai. tidak untuk kebanyakan orang yang menginginkan duduk di kursi putar itu apa apa yang di mau pasti tinggal manggil, beres dah.
Tapi setiap orang punya hak dan HAM kenapa oleh karena itu kita dilatih untuk menjadi orang yang tidak merugikan orang lain, loh kenapa kok gak masuk akal ceritanya. memang kenapa, sebab nya yang ngerasain gua yang duduk di kursi putar itu bagaikan raja tiap hari yang punya kuasa bagi semuanya, tapi gak begitu juga karna .....tau sendiri lah

Rabu, 26 September 2018

berusaha

Hari ini hari kamis 27 September 2018 aku sedang memikirkan hal yang tak masuk akal bagi setiap orang bagai mana caranya untuk mewujudkan semua keinginan..? Mungkin itu bukan hal yang mudah  untuk melakukannya, meski slogannya " BERUSAHA KERAS DAN TERUS OPTIMIS" nah dari itu bagaimana cara berusaha keras. beryusaha keras yaitu bagaikan kita punya keinginan atau sesuatu yang mau di capai dengan cara menekuni apa hal yang terkait di keinginan tersebut dan mengapa kitaharus tetap optimis yaitu karna dengan optimis kita bisa wujudkan usaha keras kita . nah dari itu mulailah ada celah buat kita untuk mewujudkan semuanya

Hati seorang anak

Dahulu kala ketika ia masih duduk dibangku sekolah dasar, Ahmad sering sekali membantu kedua orang tuanya, bahkan ia sepulang sekolah langsung pergi keladang untuk membantu ibunya. Ahmad sangat penurut dan mau melakukan semua kebajikan. Ia tak lupa mendirikan sholat 5 waktu sehari semalam. Ahmad merupakan figur anak yang sabar, ia bertekad suatu waktu ia bisa memberangkatkan kedua orang tuanya pergi haji ke tanah suci.
Sejak duduk di bangku SD, Ahmad merupakan anak laki-laki yang pendiam dan Ia juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang yang handal di bidang IT akhirnya iapun berusaha sekuat tenang untuk bisa membahagiakan orang tuanya.
Sampai pada suatu ketika, ia berhasil meraih sebuah posisi yang sangat bagus disebuah perusahaan, ia pun tidak mau menjadi orang yang sombong, sebab ia pun tahu keberhasilannya yang sudah ia peroleh adalah sebagian besar karena doa dari kedua orang tuanya, dan pada akhirnya iapun bisa memberangkatkan haji kedua orang tuanya dan merasakan sangat bersyukur karena ia bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya.
Pesan Cerita hati seorang anak adalah janganlah kau sia-siakan orang tua, jika saat ini mereka masih hidup, pelihara, jaga dan rawatlah mereka, sebab merekalah yang merawat kita semenjak kita kecil.

Senin, 24 September 2018

perjuangan yang tak akan kulupakan
penantian yang selalu aku nantikan
kasihku dimana dirimu
kuberdo'a di setiap harinya
semoga 
Dahulu kala ada seorang anak laki laki dia ituh merupakan seorang pekerja keras namun dia adalah seorang pendiam, pada waktu kecil dia sudah mandiri membantu orangtuanya dalam melakukan pekerjaan yang sering dilakukan oleh orangtuanya. pada saat usia 5 tahunan masa kecilnya dia tidak begitu bahagia sebab dia kesepian, karna gak ada yang bisa dia lakukan selain membantu orangtuanya, karena dia merupakan anak bungsu satu satunya dari tiga bersaudara dan kakak-kakak nya yang satu merantau bekerja ke jakarta yang kedua kakak nya bekerja sebagai peternak itik. jadi dia gak ada teman buat bercanda seperti teman sebayanya dekat sama kakak-kakak nya tiap hari kemana mana selalu di temani kakaknya sedangkan dia hanya bisa melamun dan berpikir kapan saya bisa berkumpul sama kakak nya. dan dia terus berdo'a supaya bisa kembali lagi berkumpul bersama sama keluarga.
setelah dia lulus taman kanak kanak dia melanjutkan sekolahnya di sekolah dasar dimana dulu kakaknya menimba ilmu di sana pada saat dia masuk sekolah dasar dia mulai mengerti kenapa kakak-kakak nya bekerja sangat jauh. dan setelah lulus dari sekolah dasar dia melanjutkan sekolahnya  ke MTs dimana tempat kakak nya dulu sekolah disana dan guru guru disana tiba tiba saja mereka mengenal saya secara drastis karena dulu kakak saya katanya dia merupakan siswa yang berprestasi di sekolah tersebut. dan  dia pun tidak kalah sangat pandai dalam hal perhitungan, sejarah dan yang pokoknya. dan sejak disana dia berniat bercita-cita ingin menjadi pengusaha yang sukses. setelah dia lulus sekolah MTs dia melanjutkan sekolahnya di jenjang sekolah menengah kejurusan

Jumat, 10 Agustus 2018

supranatural yang pernah datang

Percaya gak percaya, hal supranatural ada di luar sana. Beberapa orang memang diberi kemampuan khusus entah sejak lahir, karena kejadian tertentu atau dikondisikan sedemikian rupa. Banyak orang berpikir bahwa kemampuan tersebut hebat, tapi para pemiliknya berharap gak bisa melakukannya.
Selain karena mereka harus terbiasa dengan hal yang gak dirasakan orang lain, terkadang ada tanggung jawab lebih yang dibebankan pada mereka sesuai kemampuannya.
seperti halnya diri saya sendiri yang pernah mengalami hal yang serupa seperti :

Melihat sesuatu yang gaib

Melihat sesuatu yang gaib itu dirasakan awal mulanya pada saat duduk di bangku SD kelas 1, saat itu sedang bermain di depan rumah pada saat menjelang magrib ada seseorang yang enggak aku kenal dia berpakaian layaknya seorang ratu istana dia menghampiri saya saat sedang duduk di depan rumah sendirian dan dia bertanya "kamu gak main sama teman-teman kamu" pada saat itu aku gak menjawab saking gak kenalnya mungkin saya gak menjawab pertanyaan yang dia tanyakan, terus saya dibawa kesuatu tempat yang dimana disana banyak sekali pemandangan yang serasa tidak ingin beranjak kemana mana lagi, soalnya pemandangannya itu sangat-sangat menakjubkan seperti halnya melihat pegunungan yang tak asing bagi saya kalau sekarang dikenal sebagai gunung syawal di daerah kabupaten ciamis. dan setelah itu saya dibawa lagi kesuatu tempat yang awalmulanya saya hanya mendengar dari ayah saya yaitu gunung djati cirebon, saya di bawa kesana sangat-sangat dengan cepatnya langsung sampai disitu di gerbang masuk makom sunan gunung djati, mungkin singkat saja pada watu itu di bawa ketempat diamana yang belum saya kenal dan sekarang ada beberapa yang pernah aku singgahi dengan wujudnyata dan pasti yaitu gunung jati desa utama, gunung susuru, karangkamulyan, gunug sari, pokonya di daerah tatar galuh yang sekarang dikenal kabupaten ciamis.


Membaca pikiran seseorang

Membaca pikiran orang lain itu sejak saat itu saya berada di rumah yang saat itu awal mulanya saya melihat ibu saya sedang berada di dapur sendirian beliau sedang duduk santai sambil menghadap keluar rumah pada ssat itu juga terlintas ada bayangan seperti ilustrasi/imajinasi pikiran dan disana saya melihat bayangan seorang bayi yang sedang dia gendong dan itu menyerupai  wajah saya sendiri di dengan penuh kasih sayang melantunkan bacaan solawat pada saat itu dan saya pun seraya meneteskan air mata melihat itu semua dan terlintas juga bayangan seperti beliau sedang memikirkan sesuatu yang membuat hati ini menjadi ingin menangis sejadi jadinya. dan langsung ssat itu saya memeluk ibu saya erat erat sembari menangis dan entah apa saya lagsung mengucapkan ibu sehat terus saya akan membahagiakan ibu dan ayah ketika saya udah besar nanti aku akan wujudkan impian ibu dan ayah. dan setelah kejadian itu saya sering melihat bayangan yang ketika saat saya melihat seseorang sampai sekarang.


Melihat aura orang lain

Melihat aura orang lain itu ketika saya bermain sama teman-teman sebaya waktu SMP itu karna waktu itu saya suka sama warna biru dan kebanyakan saya memilih teman yang aura nya berwarna biru tapi ha itu sangat sulit menemukannya kebanyakan merah sama hitam. dan itu yang paling saya kurang suka karena susah bergaul dengan orang lain.

Muksa, atau lepas dari tubuh ketika tidur

Muksa istilah dari melepaskan roh kalau dalam bahasa jawanya , dalam hal ini sering terjadi ketika tidur entah sebab apa tiba tiba saja bayangan bisa melihat diri sendiri sedang tertidur. hal seperti ini jika terjadi itu semisalnya sedang berada di alam lain. dan juga bisa pergi kemana saja yang di inginkan bisa keliling dunia atau pergi kesuatu tempat yang di inginkan, tapi hal ini sepertinyata karena sesudahnya kita akan ngosngosan seperti udah lari maraton.

Merasakan energi atau pun rasa dari sekelilingnya

hal ini sering terjadi bila saat berpergian ke suatu tempat atau mengunjungi tempat yang kita tuju. hal ini saya rasakan pada waktu masih kelas SD terjadi pada saat berkunjung ke kerabat pada waktu itu saya merasa ada yang memperhatikan dari belakang, namun aku cuek saja lama kelamaan saya penasaran dan saya tengok kebelakang ternyata ada seorang laki laki yang terus mengikuti saya sedari datang dari tadi eh ternyata teman waktu kecil ku sedari tk. dan sesudah seperti itu saat kemana mana pasti merasakan hawa yang ber ubah ubah.

Punya alter-ego yang bisa "dipanggil" sampai menjadi doppelganger

Berbeda dengan kepribadian ganda. Kepribadian ganda adalah kelainan psikologis, sementara dalam hal ini adalah cenderung ke arah supranatural di mana kepribadian yang lain itu akan muncul sesuai kondisi yang dibutuhkan dan pada level tertentu bisa dikontrol kehadirannya. Gak cuma itu, beberapa yang memiliki kemampuan ini bahkan bisa berada di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Masalahnya jika sudah dalam kondisi seperti itu, terkadang sosok salah satu lainnya gak terkontrol dan bisa melakukan apa saja, sementara namamu lah yang akan tercoreng jika ia melakukan sesuatu yang buruk. itu saya rasakan dan mengalami hal yang tidak biasa.

Mengubah energi lebih baik untuk kesembuhan orang
hal ini jarang saya gunakan,hanya saat saat tertentu saja intinya bukan untuk pamer atau apalah.

Dilindungi oleh suatu bentuk yang akan mencelakai orang yang menyakiti

hal ini baru saya rasakan ketika sedang terjadi keributan di dalam kelas yaitu saya sendiri yang menjadi korbannya, pada waktu itu saya sedang memotong kuku lalu datang teman dari kelas lain menghampiri lalu duduk di sebelah saya lalu dia berniat ingin meminjam gunting kuku itu tapi memintanya dengan nada yang gak aku suka seperti " heh An**ng pinjam gunting kuku" ya otomatis saya gak merespon, lalu baju saya di tarik dia menantang bertarung dengan saya , dan saya berpikir hal sepele kok bikin emosi meningkat lalu teman yang tadi kan sedang memegang sebelah kayu itu asalnya dari kaki meja yang udah rusak. lalu kayu itu di pukulkan ke belakang kepala saya dan sayatidak merasakan kesakitan atau apa, saya merasa gak kena pukulan yang keras dan pada waktu itu teman sekelas lalu menghampiri kami berdua dan memisahkan kami, saya hanya terheran" saya pada kenapa coba dan aku tersadar sesudah beberapa hari setelah kejadian itu bahwa ada yang melindungi aku sejak itu sampai sekarang.

Memindahkan benda di luar jangkauan sentuhan

memindahkan benda di luar jangkauan sentuhan belum saya alami kalau kalau mungkin sekarang saya bisa terbang bebas kesana kemari..

Diberi penglihatan akan masa depan

hal ini sering saya gunakan bila ada yang membutuhkan saja tidak untuk di pamerkana hanya untuk diri saya sendiri yang tahu.

Minggu, 01 Juli 2018

Kisah Dibalik Kota Perantauan

Kisah Dibalik Kota Perantauan

ketika acara pelulusan tiba

Ketika hari yang di tunggu-tunggu itu datang pada tanggal 3 april 2018 itu, saya sangat gembira sekali karna pada taggal itu rasa senang, takut, was-was campur aduk semua karna pada hari itu penentuan LULUS / TIDAK LULUS nya aku apalagi pengumumannya itu di barengin sama acara perpisahan dan di dampingi oleh orang tua.
dan pada detik-detik pembagian surat kelulusan oleh wali kelas rasa dag dig dug  itu makin kencang ketika semuanya sudah kebagian surat kelulusan ada salah satu teman dari angkatan saya yang enggak nerima surat kelulusan, sesudah semuanya kebagian barulah menuju ke orangtua masing-masing, aku langsung menghampiri orang tuaku sembari membawa surat kelulusan sembari berjalan saya berdoa kepada allah semoga aku lulus, pada saat orangtua ku membuka isi surat kelulusan itu aku agak menjauh karna segala rasa itu menghampiri pada itungan mundur dari 3...2...1... suratpun dibuka oleh orangtuaku dan dibacanya ternyata aku LULUS 100% cuy tanpa bersyarat dan aku langsung peluk orangtuaku sembari menangis karna rasa penyesalan kegembiraan yang ada dibenakku seakan menghampiri prasaan ku karna aku orangnya nakal bandel dan juga suka keluar malem. aku menangis sejadi jadinya di pelukan orangtuaku lalu aku syujud syukur atas apa yang aku peroleh selama 3 tahun di sekolahan sekarang aku udah lulus dan menjadi alumni.
setelah acara itu selesai saya sam orangtuaku langsung pulang kerumah karna saya sangat kasihan sama orangtuaku belum istirahat jadi aku pulung kerumah. sesampainya di rumah aku menangis sejadi jadi dan meminta maaf kepada orangtuaku atas apa yang selama ini aku suka macem -macem kepadanya aku meminta maaf dan aku langsung mencuci kedua orangtuaku.

Selasa, 15 Mei 2018

Cerita Aku, Kau, Dan Dia ( cerpen )

Cerita Aku, Kau, Dan Dia

Oleh : Muhamad Sajidin

"Rendy! Cepetan dong di kamar mandinya! Lama banget sih!" teriakku sambil menggedar-gedor pintu kamar mandi dengan kepalan tangan yang kuat.
"Hallo! Denger gak sih lo! Gue udah gak tahan nih!" teriakku lagi. Tapi tak ada jawaban di dalam kamar mandi sana. Yang ada hanyalah keheningan.

Aku nggak habis pikir. Apa sih maunya Rendy? Dia pikir kamar mandi cuma punya dia doang apa? Aku sudah nggak tahan lagi untuk buang hajat, ibarat peribahasa, bagaikan telur di ujung tanduk. Akhirnya untuk meredam gelora yang makin membara di dalam perutku, aku berjalan mondar-mandir di Flur depan kamar mandi. Aku sampai mengeluarkan air mata karena kesal dengan Rendy yang cuek banget, dan karena rasa sakit ingin buang hajat sudah nggak bisa kutahan.

Semenit, dua menit, lima menit, sampai sepuluh menit, si 
Rendy tetap di dalam. Akhirnya aku segera mengambil jaket, memakai sepatu, lalu lari ke asrama yang berjarak 30 meter dari asrama kami. Sampai di sana – yang nota bene adalah asrama anak-anak cewek – aku malah ditertawakan ketika mereka tahu kalau seorang laki-laki yang cantik ini datang ke sana karena kebelet ke toilet. Duh, makin kesal aku dengan Rendy!

Seperti itulah keadaan asrama kami sekarang ini. Bagaikan neraka! Padahal dulu, setahun yang lalu saat kami bersama-sama masuk ke asrama ini, keadaannya damai, adil, dan sejahtera!

***

Asrama kecil kami dihuni oleh tiga orang, yaitu aku, Rendy, dan Huda. Kami sama-sama baru sampai di Berlin setahun yang lalu. Pertemuan pertama kami adalah ketika acara pengajian bulanan di KBRI. Ketika itu kami masih belum punya Asrama dan masih menumpang dengan orang lain. Tapi alhamdulillah, ada tawaran sebuah Asrama berperabot dari salah seorang mahasiswa yang telah selesai studinya. Jadilah kami bertiga memiliki sebuah tempat tinggal yang kami harap akan menjadi saksi berseminya ikatan cinta dan ukhuwwah di antara kami.

Dan kami memang kompak! Orang-orang se-Berlin saja menyebut kami A karena kemana-mana selalu bersama. Ke supermarket bareng, ke bank sama-sama, sampai berangkat Studkol pun selalu bertiga. Ibarat vektor, kami itu linearabhangig. Kami pun mulai mengenal satu sama lain lebih dalam.
Rendy itu kalau tertawa suka ngakak, suka melucu, Bahasa Jermannya jago, hobinya bermain game perang-perangan. Tapi biar begitu, masalah pelajaran dia top banget. Kalau aku ada PR dari Studkol, dia pasti mau membantu aku menyelesaikannya. Pokoknya kalau masalah pelajaran, dia nomor satu lah.

Beda dengan Aditya, si cowok lugu. Suaranya halus dan pelan, seperti orangnya yang sangat perasa, tapi dia mudah sekali tertawa. Kalau tertawa suaranya nyaris tak terdengar seperti iklan mobil, ketika tertawa dia selalu menutup mulutnya, katanya sih refleks. Keahliannya adalah melukis. Asrama kami selalu ada gambar lukisan-lukisan yangsangat bagus. Intinya kalau masalah melukis dia number ono.

Kalau aku? Kata mereka, aku ini perfeksionis. Nggak bisa melihat ada kotor sedikit atau ada barang yang tidak pada tempatnya. Yang jelas, Wohnung kami selalu terlihat rapih, bersih, wangi dan menawan karena aku. Kesimpulannya kalau masalah beres-beres, crème de la crème deh!

Tapi itu dulu, sekarang di mataku, dua anak itu sudah kelihatan belangnya.
Pertama Anin, aku bingung, sebenernya dia itu lugu atau blo’on sih? Sangat pelupa, sembarangan, dan berantakan. Dia pernah lupa mematikan kompor waktu selesai masak sampai api berkibar-kibar di udara. Lupa nyuci piring, lupa buang sampah, pokoknya nggak ketahuan antara beneran lupa atau sengaja dilupa-lupain. Kalau bercanda pun – saking lugunya – terkadang suka menyinggung hati orang lain. Aku teringat waktu itu, 
Fitri sedang memasak nasi goreng, lalu Anin datang untuk mencicipi. Tebak apa komentarnya?

„Waahh, nasi gorengnya tumpah garam ya? asin banget,“ atau juga,
„Ihh kok bentuk makanannya kayak gini? Kayak makanan ikan, gak nafsu ah makannya“

Kalau sudah seperti itu, pasti 
Fitri langsung tersinggung dan mengunci diri di dalam kamar. Memang, masalah memasak Anin yang paling jago, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya berkomentar dong?!

Beda Anin beda pula 
Fitri. Belakangan ini cueknya nggak ketulungan. Seolah-olah dunia ini milik dia sendiri dan yang lain hanya ngontrak. Ya seperti kejadian tadi, Rendy memakai kamar mandi seenaknya sementara yang lain sudah menunggu lama di luar. Bukan hanya itu, kadar cueknya telah melampaui batas. Sekarang dia sudah tidak mau lagi ngajarin kita-kita pelajaran. Kerjaannya tiap hari main games di depan komputer atau belajar atau membaca buku sendirian. Peraturan rumah yang sudah disepakati bersama pun sudah dia tinggalkan. Kalau seperti ini, aku berasa seperti pembantu rumah tangga di Wohnung ini! Semua pekerjaan bersih-bersih aku yang mengerjakan. Ya habis bagaimana? Si Aditya pelupa, si Rendy cuek, sedangkan aku paling gak tahan melihat sesuatu yang kotor dan berantakan! 


***

Rendy! Gue mau ngomong sama elo!“ bentakku ketika sudah sampai kembali di Wohnung. Seperti biasa Rendy hanya memandangku sebentar lalu mengeloyor pergi ke kamarnya.
„Heh! Dengar gue gak sih? Gue mau ngomong sama elo!“ kataku nyolot.
„Ya kalau mau ngomong, tinggal ngomong aja! Gitu aja kok repot,“ balasnya nggak kalah nyolot.
„Heh! Dengerin ya, yang punya kamar mandi di Wohnung ini bukan cuma lo doang tau!“
„Na, and?“ jawabnya gampang, membuat emosiku semakin membara.
„Ya kalau gue mau masuk kamar mandi, lo harus cepet-cepet juga dong! Minimal bilang tunggu sebentar kek, apa kek,“
„Di dalam kamar mandi nggak boleh bersuara. Itu yang gue tahu,“ jawabnya yang membuat aku kehilangan kata-kata lagi.
Duuuh! Egois banget sih dia!

Saat suasana makin memanas, datang si lugu Aditya ke kamar 
Rendy.
„Ada apa sih? Kok ribut-ribut?“ sahutnya dengan wajah lugunya yang ‚menawan’.
„Ah udah deh! Lo gak usah ikut campur! Kalian berdua tuh sama aja! Muak gue di Wohnung ini!“ teriakku lalu pergi meninggalkan mereka dan masuk ke kamar dengan membanting pintu keras-keras.

***

Seminggu sudah semejak kejadian itu. Suasana di antara kami semakin menegang. Di Studkol kami pun berjalan sendiri-sendiri, tidak lagi seperti AB-Three yang dulu orang-orang bilang. Aku pun menjadi malas pulang ke Wohnung. Aku lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan atau di mana saja asal bukan di Wohnung. Perlahan kesehatanku menurun, bukan karena Anin yang sekarang tidak pernah lagi memasak untuk kami, tapi karena aku memang suka telat makan di musim dingin yang menusuk-nusuk ini.

„Assalamu’alaikum..“ sahutku pelan saat masuk ke Wohnung pada pukul sebelas malam. Kulihat lampu kamar 
Fitri dan Anin masih menyala, tampaknya mereka belum tidur. Kutengok keadaan dapur, ternyata masih sama. Piring yang menumpuk, sampah yang menggunung, dan yang membuatku sedih, kompor yang kosong. Aku sedang lapar sekali malam itu dan berharap Aditya memasak sesuatu. Ternyata tidak.

Langkahku memberat untuk sampai ke kamarku. Tiba-tiba dunia seakan berputar. Kepala seperti mau meledak, lalu aku lemas dan tersungkur, tepat di depan kamar 
Rendy sebelum aku masuk ke kamarku.

„Huuda! Huuda! Elo kenapa, da? Huda!“ hanya itu yang bisa kudengar, dan mataku hanya mampu menangkap wajah panik Dara dan Aditya.

***

Saat tersadar yang aku lihat pertama kali adalah sebuah tivi kecil yang menggantung di atas dinding. Dari aroma ruangan, aku langsung tahu kalau sekarang aku berada di sebuah rumah sakit. Selang-selang infus membelit-belit di lenganku. Kutoleh wajahku ke sisi ruangan, nampak Anin dan 
Fitri sedang duduk menungguku.

„Nurry! Gimana? Agak mendingan sakitnya?“ kata 
Fitri yang baru kali ini aku dengar lagi setelah sekian lama. Penuh perhatian. Aku tersenyum dan mengangguk.
„Lo sekarang lagi di Charité. Hampir seharian lo nggak sadarkan diri. Udah, lo tenang aja. Kata dokter lo kecapekan. Ini gue bawain catatan Studkol hari ini,“ lanjutnya. Aku menatapnya kuat-kuat.

„Nurry.. maafin Anin ya, kata dokter kemarin Nurry pingsan karena kelaparan. Maaf kemarin Anin lagi nggak mood buat masak. Ini Anin masakin ayam pop dan salad kesukaan Nurry. Soalnya menu makanan di rumah sakit ini ada babi nya. Terus dagingnya juga gak jelas. Rasanya juga pasti hambar. Makanya Anin bawain makanan. Dokter bilang boleh kok,“ katanya dengan suara anak kecilnya yang khas. Alhamdulillah, Allah memberikan aku cobaan ini sehingga hubunganku dengan 
Fitri dan Anin menemukan titik perbaikan lagi.

„Nin, Ra, gue boleh ngomong?“ kataku dengan suara yang masih serak.
„Boleh.. boleh“ sahut mereka bersamaan.
„Gue mau minta maaf karena belakangan ini bawaannya suudzon terus ke kalian. Kalian juga sih, yang satu cuek, yang satu pelupa,“ kataku.
„Sama-sama Nur,“ jawab 
Fitri. „Kita juga sebel sama lo, soalnya lo itu pemarah. Emosian. Kerjanya cuma ngomel-ngomel melulu. Jadinya kita juga sebel. Walau terkadang gue juga suka sebel ke Anin karena suka berkomentar tak berdosa,“ lanjutnya.

Kami bertiga tertawa. Ada pengakuan dosa. Saling berintropeksi, saling mengerti dan memahami, bahwa masing-masing orang punya karakter yang berbeda. Memahami karakter orang, terbuka, saling percaya, dan saling paham adalah modal dasar untuk membentuk sebuah hubungan terlebih untuk tinggal bersama. Perbedaan karakter bukan menjadi alasan untuk saling bertabrakan, tapi menjadi pewarna yang indah bagai pelangi. Semakin berbeda warnanya semakin indah dipandang.

Saatku kembali ke Wohnung setelah tiga hari menginap di rumah sakit, kulihat ada sesuatu yang berbeda. Wohnung kami makin rapih, bersih, dan wangi. Di dapur pun sudah menanti masakan-masakan si Anin. Kami memulai lagi Wohnung kami. Peraturan baru: Masak harus bergantian, membereskan rumah harus bergantian, selalu shalat berjamaah, selalu belajar bersama, dan bersama-bersama yang lainnya. Kami pun menjadi AB-Three lagi, seperti sebuah tembangnya yang jadul banget itu: „We are one!